Kalau di serial televisi ada sebuah judul
film TBNH atau Tukang Bubur Naik Haji yang menceritakan seorang pedagang bubur
ayam keliling yang dengan kegigihannya akhirnya mampu menunaikan ibadah haji. Namun
berbeda dengan kisah yang dialami oleh Mbah Karto (67 Tahun), Dia adalah TBNH- “Tukang
Becak Naik Haji” asal Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten
Jombang.
![]() |
| (Mbah Karto Ketika Ditemani Istrinya) |
Meski hanya sebagai pengayuh becak dengan
penghasilan rata – rata Rp 30 ribu per hari. Namun Mbah Karto tahun ini
terdaftar sebagai calon jamaah haji (CJH) dan sudah melunasi BPIH tahap II sehingga
mbah Karto akan berangkat ke Makkah pada tahun ini (Akan berangkat pada 24
Agustus 2016).
Mbah Karto menceritakan, Pada awal – awal,
memang sulit untuk mengumpulkan uang sambil membagi untuk kebutuhan belanja. Tapi
lama-lama, dari waktu ke waktu akhirnya terbiasa juga menabung, meski awalnya
hanya mampu nyelengi Rp 5 ribu per hari. Bahkan, kata Mbah Karto, dulu pernah hanya bisa
menyisihkan Rp 1. 500 sehari.
“Nabungnya sejak 20 tahun lalu. Setiap hari
saya sisihkan, kadang Rp5 ribu, kadang Rp10 ribu, bahkan pernah hanya seribu
rupiah. Tergantung dengan hasil yang didapat setiap harinya," paparnya. Namun
Mbah Karto mengakui bahwa keberangkatan
ini tak lepas dari izin Allah untuk dapat berangkat ke tanah suci Makkah. Karena Sang
Pengeran (Tuhan) mengizinkan, ya inilah karunia yang diberikan-Nya.
“Pada awal – awal, memang sulit
mengumpulkan uang sambil membagi untuk kebutuhan belanja. Namun Selama manusia
memiliki niat baik pasti akan dikabulkan, bahkan segala kemudahan akan diturunkan
oleh Yang Maha Kuasa,” cerita Mbah Karto.
Mimpi untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima sudah menjadi impian bapak dua cucu ini. Sebelum menjadi tukang becak,
ia juga pernah menjadi seorang tukang parkir di bekas lokalisasi di kampung
tersebut. Maklum kampung Mbah Karto tersebut dulunya adalah bekas lokalisasi
terkenal di Jombang yakni “Klubuk”. Dengan keinginan dan keyakinan yang kuat
tersebut maka impian memijakkan kaki di tanah suci Mekkah menjadi terwujud.
“Uang hasil bekerja tiap hari usai menarik becak
disisihkan.Saya kumpulkan di bawah kasur, kadang juga di bawah bantal. Kalau
sudah terkumpul banyak, selanjutnya saya menabung di salah satu Bank di
Jombang. Sebelum saya jadi tukang becak, di Dusun Klubuk merupakan tempat
lokalisasi. Saya dan istri bekerja sebagai tukang parkir dan sering juga kena
razia,” Urainya.
Selamat Jalan Mbah Karto, Semoga Ibadah Hajinya Lancar dan Pulang Mendapat Predikat Haji Mabrur...Aminnnnnnnn...
Selamat Jalan Mbah Karto, Semoga Ibadah Hajinya Lancar dan Pulang Mendapat Predikat Haji Mabrur...Aminnnnnnnn...
*)Andik_Jodi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar